Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa (PBSJ) Universitas Muhammadiyah Purworejo menyelenggarakan Seminar Budaya dengan tema “Pengenalan Wayang Gaya Jogja dan Solo sebagai Media Edukasi Budaya bagi Generasi Muda.” Kegiatan ini menghadirkan Ki Anom Sucondro sebagai pembicara dan diikuti oleh dosen, mahasiswa PBSJ, serta peserta umum.
Seminar budaya ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan seni pertunjukan wayang, khususnya wayang gaya Yogyakarta dan Surakarta. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mengenalkan perbedaan karakteristik kedua gaya wayang, mulai dari bentuk boneka, gerak, busana, lakon, hingga gaya penyajian dalang.
Dalam pemaparannya, Ki Anom Sucondro menjelaskan mengenai gagrag dalam pewayangan. Gagrag merupakan gaya atau style yang digunakan dalam pakeliran atau pewayangan. Perkembangan gagrag Yogyakarta dan Surakarta tidak terlepas dari sejarah pembagian Kerajaan Mataram melalui Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang kemudian melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan unsur-unsur pakeliran dalam pertunjukan wayang kulit, meliputi sabet, catur, sanggit, iringan, dan penyajian. Peserta juga dikenalkan dengan berbagai unsur yang membentuk karakter pertunjukan, termasuk gerak wayang, dialog, alur cerita, iringan gamelan, serta etika dan sikap dalam penyajian.
Selain membahas pertunjukan wayang, Ki Anom Sucondro menjelaskan peran dalang yang tidak hanya sebagai penggerak wayang. Dalam sebuah pertunjukan, dalang memiliki berbagai peran, seperti sutradara, narator, pengisi suara, penembang, pemimpin orkestra gamelan, penyampai nilai moral, hingga improvisator. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan dalang memiliki peran penting dalam membangun keseluruhan pertunjukan wayang.
Seminar juga membahas sejumlah perbedaan antara gagrag Yogyakarta dan Surakarta, di antaranya konsep dasar penyajian, suara keprak, proporsi wayang, pakaian adat, nada atau larasan, bentuk kelir, hingga gending atau iringan. Peserta turut diperkenalkan dengan beberapa perbedaan unsur busana dan perlengkapan seperti blangkon, beskap, surjan, keris, dan jarik dari kedua gaya tersebut.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan semakin mengenal kekayaan seni pertunjukan wayang serta memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Seminar Budaya PBSJ juga menjadi salah satu ruang edukasi untuk mendekatkan budaya Jawa kepada generasi muda agar wayang tidak hanya dikenal sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai kehidupan.